Dalam
konteks sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup tanpa manusia lain.
Karena itu, dalam menjalin hubungan dengan manusia lain memerlukan komunikasi.
Kita sebagai muslim begitu bangun tidur mendengar adzan dan melakukan salat
Subuh. Ini komunikasi antara dirinya dengan Sang Pencipta. Ketika
salat, terkadang kita meneteskan air mata, sambil memohon diberi petunjuk oleh
Sang Pencipta. Begitu pula manusia sejak lahir, pada dasarnya sudah
berkomunikasi. Contohnya, seorang bayi dengan cara menangis mengomunikasikan
keinginannya. Seorang ibu memiliki naluri sehingga mengerti maksud tangisan
bayinya yang belum bicara, misalnya saja dengan segera memberikan air susu ibu
(ASI).
Bila
seseorang berbicara dan temannya tidak mendengarkan, maka tak ada pembagian dan
komunikasi. Jika orang pertama menulis dalam bahasa Inggris dan orang kedua
tidak dapat membaca bahasa Inggris, maka tidak ada pembagian dan tak ada
komunikasi. Dari apa yang dilakukan, komunikasi dalam kehidupan manusia
sebenarnya merupakan hal pokok. Melalui komunikasi, orang bakhan dapat
memengaruhi dan mengubah sikap orang lain, membentuk konsensus dan membuat
keputusan.
Dengan
melihat contoh tersebut, kita dapat melihat eksistensi manusia dan
hubungan sosial dengan lingkungan sosialnya, sehingga kualitas sosial manusia
ditentukan bagaimana berkomunikasi. Istilah komunikasi atau dalam bahasa
Inggris communication berasal dari bahasa Latin. yakni communicatio dan
bersumber dari kata communis yang berarti sama atau sama makna. Karena itu,
komunikasi akan terjadi bila terdapat kesamaan makna antara komunikator dan
komunikan, ficture in our head kita sama. Hal ini juga dipengaruhi oleh
kerangka referensi dan kerangka pengalaman antara komunikator dan komunikan.
Jika daerah kerangka pengalaman dan kerangka referensinya makin besar, semakin besar pula tercipta komunikasi yang efektif. Sebaliknya, jika kerangka pengalaman dan kerangka referensinya makin menyempit maka komunikasi yang terjadi semakin terbatas bahkan dapat dikatakan gagal.
Jika daerah kerangka pengalaman dan kerangka referensinya makin besar, semakin besar pula tercipta komunikasi yang efektif. Sebaliknya, jika kerangka pengalaman dan kerangka referensinya makin menyempit maka komunikasi yang terjadi semakin terbatas bahkan dapat dikatakan gagal.
Memang
banyak hambatan yang bisa menyebabkan komunikasi mengalami kegagalan. Beberapa
hambatan dalam melakukan komunikasi antara lain: Pertama, hambatan dari proses
komunikasi itu sendiri. Hambatan ini bisa dari pengirim pesan, sehingga pesan
yang disampaikan tidak maksimal. Hambatan dalam penyandian/simbol,
bahasa yang dipergunakan tidak jelas, sehingga mempunyai arti lebih dari satu.
Hambatan media, misalnya gangguan suara radio dan aliran listrik sehingga tak
dapat mendengarkan pesan yang disampaikan. Hambatan dalam bahasa sandi,
terjadi ketika menafsirkan sandi oleh penerima pesan. Misalnya, kata “atos” ada
dalam bahasa Sunda ditafsirkan dalam bahasa Jawa. Hambatan dari penerima pesan,
misalnya kurangnya perhatian pada saat menerima/mendengarkan pesan, sikap
prasangka, tanggapan yang keliru dan tidak mencari informasi lebih
lanjut. Hambatan dalam memberikan balikan. Balikan atau feedback yang
diberikan tidak menggambarkan apa adanya, akan tetapi memberikan interpretatif,
tidak tepat waktu, tidak jelas dan sebagainya.

No comments:
Post a Comment