Menurut
Hocker dan Wilmot (1985;20) konflik di ekspresikan dalam proses
komunikasi melalui isi dan relasi. Kita bisa kembali pada kisah sahili
tadi. Tatkala sahili menjawab pertanyaanya dengan ketus, kita tentu bisa
melihat bukan hanya isi pesan yang disampaikan melalui komunikasi itu
yang menunjukan “ suasana yang lain dari biasanya” tetapi juga
menggabarkan bagaimana kondisi relasi anatar sahili dan temanya saat
itu. Pesan komunikasi verbal dan nonverbal yang disampaikan sahili
menunjukan bagaimana relasi anatara sahili dan temanya saat itu. Sahili
mengambil jarak, untuk menghindari percekcokan dengan temanya itu.
Hocker
dan Willmot(1985;39) menyajikan beberapa asusimsi yang berkaitan
dengan gaya konflik yang dikembangkan individu. Asumsi – asumsi tersebut
adalah sebagai berikut :
1. Manusia mengembangkan respon- respon terpola terhadap konflik.
2. Manusia mengembangkan gaya konflik untuk alasan-alasan yang bisa diterima oleh dirinya sendiri.
3. Tidak ada satu gaya konflik pun yang dengan sendirinya lebih baik dibanding dengan gaya yang lain.
Menurut teori Fundamental Intepersonal Relationsip Orientation (FARO), Alasan manusia menjalin relasi antarpribadi adalah untuk memenuhi tiga kebutuhan antarpribadi, yakni kebutuhan inklus, kontrol, dan kasih sayang. Oleh karena kebutuhan-kebutuhan itulah maka manusia menjalin komunikasi antarpribadi dan ralasi antarpribadi dengan sesamanya.
SUMBER : kosmik.web.id/ilmu-komunikasi/komunikasi-antar-pribadi/
Menurut teori Fundamental Intepersonal Relationsip Orientation (FARO), Alasan manusia menjalin relasi antarpribadi adalah untuk memenuhi tiga kebutuhan antarpribadi, yakni kebutuhan inklus, kontrol, dan kasih sayang. Oleh karena kebutuhan-kebutuhan itulah maka manusia menjalin komunikasi antarpribadi dan ralasi antarpribadi dengan sesamanya.
SUMBER : kosmik.web.id/ilmu-komunikasi/komunikasi-antar-pribadi/



